Karena Cinta, Ia Rela Berkorban

January 27th, 2009 by iinsumiyati

Sering kali saya perhatikan ketika melintasi jalan, seorang suami    menggandeng tangan istrinya dan ia mengangkat tangan memberi isyarat pada mobil yang akan lewat agar berhenti atau mengurangi kecepatannya karena ia dan istrinya ingin melewati jalan tersebut. Seperti halnya juga yang saya lakukan ketika melintasi jalan raya.

Hal apa yang mendorong suami melakukan itu? Dan hal apakah yang bisa kita petik dari pemandangan yang sudah biasa kita saksikan setiap hari tersebut ketika melintasi sebuah jalan ?
Kalau tiba-tiba terjadi kecelakaan, maka yang pertama kali akan kena tabrak adalah sang suami. Dan bila sang suami tersebut tanggap, dengan cepat ia mendorong tubuh istrinya ke tepi jalan agar menghindarkan istrinya dari tabrakan. Dan tinggallah sang suami terbaring dalam balut darah yang deras mengalir di sekujur tubuhnya. Dalam keadaan seperti itu ia masih tetap bisa tersenyum dan berkata, “Alhamdulillah istri saya selamat.”

Seorang suami yang baik dan cinta pada istrinya selalu terdepan menjaga dan membela istrinya. Ia rela menempuh kesulitan, kepedihan dan bahkan kesakitan demi istrinya. Semua itu ia lakukan dengan landasan cinta. Bunga cinta yang telah bermekaran di taman hati, nyanyian cinta yang selalu mengisi hari-hari, matahari cinta yang menerangi jalan kehidupan dan rembulan cinta yang menerangi kegelapan malam menjadi sumber kekuatan menempuh pahit manisnya kehidupan.
Karena cinta, sang suami sanggup hidup susah dan menderita. Dan karena cinta sang suami tak akan tega melihat istrinya sibuk mengurus rumah dan anak sendiri. Panggilan suara-suara cinta yang selalu bergema dalam hatinya membuatnya tak akan rela menyaksikan istrinya dalam kesengsaraan.

Dan sekarang mari kita bertanya pada diri kita masing masing …?
Adakah kecintaan kita pada Allah, Rasul, agama dan kaum muslimin seperti halnya atau melebihi kecintaan seorang suami pada istrinya sebagaimana yang kita gambarkan pada tulisan diatas?
Adakah kita mencintai Allah dengan sebenarnya sehingga kita patuh pada perintahNya, meninggalkan laranganNya dan rela berkorban apapun untuk keridhaanNya?

Adakah kita mencintai Rasulullah, sehingga kita menjadikan beliau sebagai qudwah kita dalam menjalani kehidupan ini dan terdepan ketika ada yang menghina dan melecehkan dirinya?
Adakah kita cinta pada agama ini, sehingga kita selalu dengan senang hati menjalankan ajaran-ajarannya dan ketika ada yang merusak, menghina, melecehkan dan menodai agama ini, kita berada di barisan terdepan untuk membelanya?

Adakah kita mencintai kaum muslimin sehingga kita selalu hidup rukun, damai dan tentram dalam bingkai ukhuwah tanpa ada yang menghina, melecehkan, saling hantam, saling menyalahkan dan saling bunuh?

Pertanyaan-pertanya an tersebut sangat penting untuk selalu kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Kita perlu untuk selalu mengukur rasa cinta yang kita miliki pada Allah, Rasul, agama dan kaum muslimin.

Dibanyak tempat, beberapa orang yang mengaku islam belum tampak kesan keislaman pada tutur kata, pola pikir, tingkah laku dan amalan ibadahnya. Mereka hanya baru islam dimulut atau islam KTP. Ketika azan sudah berkumandang mereka masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dirumah, di kantor, di sawah, di kebun, di pasar dan berbagai tempat lainnya. Tidak berpuasa di bulan ramadhan dan masih suka melakukan praktek hidup bebas, korupsi dan berbagai tindak kriminal lainnya.

Di beberapa tempat lainnya Rasulullah dihina, islam dilecehkan, Al-Qur`an dihujat, kaum muslimin dibantai dan para wanitanya dinodai.
Namun hanya sebagian kecil dari kaum muslimin yang jumlahnya 1 miliar lebih di muka bumi ini yang bergerak untuk menyadarkan kaum muslimin yang telah salah jalan untuk kembali ke jalan yang benar, untuk berjuang membela Nabi Muhammad, membela islam yang ternodai dan membela kaum muslimin yang terzholimi.

Kemana mereka yang mengaku mencintai Allah dan Rasul tersebut? Kenapa ketika bahaya datang menyerang bangunan islam kita tidak melihat mereka berdiri di depan. Seakan-akan mereka telah ditelan oleh bumi.
Ataukah mereka hanya mencintai islam agar dapat mengantarkan mereka meraih keuntungan dunia dan nafsu semata dengan menjadikan agama sebagai kendaraan untuk meraih harta dan jabatan dunia.

Kemana mereka yang katanya rela dicampakkan kedalam kesengsaraan dan penderitaan demi menjauhkan islam dari bahaya?

Sebenarnya mereka tidak mencintai islam. Karena sikap seperti itu bukanlah dinamakan cinta. Karena cinta adalah memberi bukan meminta dari yang dicintai. Karena cinta adalah berkorban untuk yang dicintai bukan mengorbankan yang dicintai untuk meraih keuntungan peribadi.
Pemandangan sang suami yang menggandeng tangan istrinya ketika melintasi sebuah jalan sedikit banyaknya bisa kita ambil pelajaran, bahwa cinta yang telah menghujam kuat dalam hati sang suami membuatnya berada dalam barisan tedepan menjaga, membela dan rela berkorban untuk istrinya.

Begitu juga semestinya yang harus dilakukan oleh setiap muslim, perasaan cinta yang yang telah menghujam kuat dalam dirinya juga harus membuat ia selalu terdepan dalam membela dan menjaga agama Allah ini.

Dan kalaulah kecintaan setiap muslim pada Allah, RasulNya, agama dan kaum muslim seperti halnya dan melebihi kecintaan sang suami pada istri sebagaimana yang kita gambarkan pada tulisan diatas, maka insya Allah Islam akan berjaya, umat islam akan menjalankan agamanya sesuai yang Allah perintahkan dan kita tidak akan mendengar lagi musuh-musuh islam yang berani menghina Allah, menghujat Rasulullah, menodai agama dan membunuh kaum muslimin dan menodai wanita-wanita kaum muslimin. Islam akan dihargai, dihormati dan dengan izin Allah akan berbondong-bondong manusia memeluk agama Allah yang mulia dan sempurna ini. Semoga bisa menjadi renungan kita bersama.

5 Bekal Istri Aktivis Dakwah

January 27th, 2009 by iinsumiyati

Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.

Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:

1. Bekalan Yang Bersifat Pemahaman (fikrah).

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!

2. Bekalan Yang Bersifat Ruhiyah.

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita.

3. Bekalan Yang bersifat Ma’nawiyah (mentalitas).

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu) dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!

4. Bekalan Yang bersifat Aqliyah (intelektualitas).

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!

5. Bekalan Yang Bersifat Jasadiyah (fisik).

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’.

Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?

Halo dunia!

January 27th, 2009 by iinsumiyati

Welcome to Friendster Blogs. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!